Popular Post

Sugeng Rawuh ---> Welcome ---> Ahlan wa Sahlan ---> Selamat Datang di Ngroto,Gubug,Grobogan

Tuesday, February 6, 2007

Kompetisi Semi-Pro yang Gagal

Era Galatama
Kompetisi Semi-Pro yang Gagal
Peringatan pemerintah agar klub LI tahun depan tak memakai lagi dana dari APBD membuat kaget. PSSI dan klub tergopoh-gopoh untuk segera mewujudkan kompetisi profesional tahun depan di Indonesia. Padahal, mereka bercita-cita lima tahun ke depan hal itu baru bisa terwujud. Menengok ke belakang, ide profesionalisme sebenarnya sudah ada sejak tahun 1970-an. PSSI bahkan mewujudkannya lewat kompetisi semiprofesional yang dikenal sebagai kompetisi Galatama. Segala persyaratan mulai dari kemandirian finansial, pendanaan, manajemen klub, infrastruktur pendukung, bahkan pemain asing sedemikian rupa diciptakan menuju atmosfer profesional. Jepang pun kabarnya pernah melakukan studi banding tentang kompetisi Galatama di akhir tahun 1980-an. Klub-klub juga didukung perusahaan yang besar pada saat itu. Misalnya Pardedetex dan kelompok usaha Pardede, Krama Yudha dengan kelompok Krama Yudha Tiga Berlian, Warna Agung dengan perusahaan cat Warna Agung. Mereka itulah yang menjadi sponsor bagi klub masing-masing. Terakhir di akhir 1980-an sejumlah BUMN masuk untuk mendanai klubnya seperti Semen Padang dan Pupuk Kaltim. “Dari segi pendanaan, era Galatama lebih baik karena tak mengandalkan uang rakyat karena mereka milik perusahaan-perusahaan bonafid yang memang mempunyai dana promosi yang besar,” jelas Halim Perdana, mantan pengurus Arseto Solo, juara Galatama tahun 1991. Klub kala itu juga diminta untuk menyetorkan sejumlah uang sebagai bank garansi. Manajemen klub juga diminta untuk menjadi badan hukum. Sejumlah pemain asing berkualitas seperti Jairo Matos (Pardedetex Medan) dan Fandy Ahmad (Niac Mitra) hadir di Indonesia. Dalam perjalanannya, kompetisi yang bergulir pertama kali pada 17 Maret 1979 ini diikuti oleh 14 klub dan bergulir hanya dengan satu divisi. Warna Agung, yang diperkuat sejumlah pemain nasional top pada saat itu, seperti Risdianto, tampil sebagai juara untuk kali pertama. Namun, sayang klub milik Benny Moeljono ini kemudian terseok-seok pada musim selanjutnya. Sebaliknya Niac Mitra kemudian memegang kendali, yang disusul kemudian oleh Yanita Utama dan Krama Yudha. Namun, di akhir hayat kompetisi ini, Pelita Jaya tampil sebagai klub paling superior. Galatama juga sempat dibuat menjadi dua divisi, utama dan satu. Gajah Mungkur Muria Utama pimpinan Sumaryoto dan Bentoel Putra sempat ikut di divisi satu. Namun, hal ini hanya berjalan semusim.
Awal Keruntuhan
Kompetisi yang pernah dijuluki sebagai universitas sepakbola di Indonesia itu kemudian perlahan menurun. Penyebabnya beragam. Sejumlah persyaratan yang ketat yang diberlakukan pada klub kala itu tak diikuti dengan ketegasan. Alhasil konsep klub pro pun sulit terwujud. Belum lagi Galatama sempat dilanda isu suap yang sangat parah di awal tahun 1980-an. Kekalahan besar klub-klub tertentu dari klub lain sebagai salah satu indikasinya. Saking parahnya, PSSI pernah membuat tim penanggulangan suap yang dipimpin Acub Zainal dan dibantu Andi Darussalam Tabusala untuk memberantas babi-babi suap itu. Faktor lain, pemain asing juga dilarang berlaga kembali saat Kardono tampil sebagai Ketua Umum PSSI tahun 1982. Akhirnya kompetisi yang berdesain pro itu mulai ditinggalkan penonton. Inilah awal kehancuran klub tersebut. Jumlah peserta yang semula 18 klub terus menciut. Pardedetex Medan adalah klub pertama yang mundur dari kompetisi ini tahun 1984. Selanjutnya Galatama benar-benar kehilangan pamor dibanding kompetisi Perserikatan yang mengutamakan persaingan dan fanatisme kedaerahan. Sponsor dan penonton tak datang, sementara masalah terus muncul. Meski dikelola lumayan profesional, tentu Galatama tak kuat untuk terus bertahan di tengah situasi tak menguntungkan. Akhirnya ide peleburan antara Galatama dan perserikatan muncul tahun 1994 dan bertahan hingga kini. (Ary Julianto/Gatot Susetyo/Aning Jati)
Kompetisi Galatama
1976-1980 Warna Agung (14 Klub)
1980-1982 Niac Mitra (18 klub)
1982-1983 Niac Mitra (18 klub)
1983-1984 Yanita Utama (15 klub)
1984 Yanita Utama (12 klub)
1985 Krama Yudha (8 klub)
1986 Krama Yudha (9 klub)
1987-1988 Niac Mitra (14 klub)
1988-1989 Pelita Jaya (18 klub)
1989-1990 Arseto (16 klub)
1991-1992 Arema (16 klub)
1992-1993 Pelita Jaya (12 klub)
1993-1994 Pelita Jaya (12 klub)
Galatama Lebih Irit
Bicara klub mandiri tentu tak lepas dari era Galatama. Kala itu terdapat klub-klub yang hidup dengan biaya sendiri. Nostalgia itu mungkin akan terulang musim depan ketika suntikan dana APBD untuk klub dihentikan. Mantan manajer Mitra Surabaya, Abdul Mu’is, menilai sangat rasional jika hal itu dilakukan. Pertimbangannya, jika klub merasakan kesulitan mencari dana, akan terjadi efisiensi pengeluaran. “Selama ini klub tidak ikut berpikir mencari dana sehingga ada kesan habis pun tak masalah,” ujarnya. Kondisi ini jelas berbeda ketika ia memegang Mitra Surabaya, reinkarnasi dari Niac Mitra. Ia harus memutar otak untuk menggali dana. Begitu pula saat mengeluarkan uang. “Semua saya perhitungkan dengan matang. Saya selalu berpikir bagaimana caranya bisa mendapat dana tambahan. Jadi kalau rugi tidak keterlaluan,” paparnya. Vigit Waluyo juga yakin sepakbola Indonesia tak akan mati tanpa kucuran dana APBD. Dia berbagi pengalaman kala menakhodai Gelora Dewata yang bermarkas di Bali selama sepuluh tahun. Saat itu kondisi finansial Gede murni dari kocek H.M. Mislan, ayah Vigit. Vigit menilai kondisi sekarang, terutama animo penonton, lebih baik dibanding dulu. Klub sekarang tak pusing cari penggemar karena mereka antusias datang ke stadion. “Itu nilai plus dan bisa menjadi modal utama. Gede dulu hampir 70 persen dana operasional dari penonton. Sisanya uang Mislan dan sponsor,” ungkap Vigit. Senada dengan Vigit, Hasnuryadi HAS Sulaiman, mantan manajer tim Barito Putera, optimistis sepakbola bisa bertahan. “Sistem kompetisi sekarang sudah bagus. Sistem pengelolaannya yang diubah. Para petinggi daerah bisa menggandeng pengusaha sebagai stakeholder klub,” jelasnya. Menurut Hasnur, terlemparnya eks klub-klub Galatama saat kompetisi digabung dengan perserikatan terjadi karena mereka kalah finansial. “Eks Galatama dari kantung sendiri, sedang perserikatan dari pemda. Dengan modal tipis, kami tak bisa beli pemain bagus. Imbasnya tentu prestasi tim merosot,” ungkap Hasnur. Baik Vigit dan Hasnur pun setuju jika dana APBD telah membuat klub jorjoran dalam menggaji pemain. Kini dengan hilangnya dana APBD hal itu tak akan terjadi lagi. Pasar pemain mahal akan sepi. Pemain pun terpaksa menurunkan harga jika musim depan ingin tetap bermain. (riz/tot)
Perserikatan Menang Fanatisme
Salah satu penyebab mundurnya kompetisi Galatama adalah rivalitasnya dengan kompetisi perserikatan. Galatama yang menjual profesionalisme nyatanya takluk di hadapan fanatisme kedaerahan. Gambaran itu terlihat jelas kala kompetisi Galatama hanya dihadiri segelintir penonton, sementara perserikatan pada final Persib vs PSMS di tahun 1985 justru membukukan rekor penonton yang hingga kini belum terpecahkan, 120 ribu penonton. Kini kedua kompetisi itu sudah disatukan sejak 1994. Pada awalnya klub-klub eks Galatama yang bermodal mandiri mulai goyah. Akhirnya BPD Jateng, Assyabaab Salim, dan Bandung Raya tak kuat dan memilih mundur. Dalam perjalanan selanjutnya, sejumlah klub eks perserikatan pun kini dihadapkan pada situasi sulit. Pelarangan pemerintah agar klub tahun depan tak menggunakan APBD sebagai dana operasional mereka membuat klub tersebut goyah. Untuk menyelamatkan kompetisi, muncul kembali sejumlah pilihan lama untuk memutar kompetisi perserikatan. “Kompetisi perserikatan itu jauh lebih bagus dibanding model LI seperti yang sekarang ini,” tegas Freddy Hutabarat. Pengurus PSMS yang dipercaya sebagai Ketua Bidang Kompetisi ini memberi contoh soal prestasi. Saat masih bergulirnya kompetisi perserikatan, prestasi Indonesia lebih bagus. Selain pernah menjuarai SEA Games 1987 dan 1992, pernah pula masuk empat besar Asian Games 1986. Keuntungan lain, dengan kembali ke perserikatan, keberadaan klub menjadi kembali diperhatikan. “Fanatisme juga akan kembali muncul. Yang lebih penting, biaya yang dikeluarkan pun tak sebesar sekarang ini,” jelasnya. Ide serupa juga diamini Vigit Waluyo. Mantan manajer Gelora Dewata itu mengusulkan agar sejumlah klub mengambil pilihan. “Mereka mau masuk Galatama atau perserikatan,” kata Vigit. Vigit menunjuk klub-klub besar seperti Persebaya, Persija, Persib, maupun PSM bisa bertahan karena mereka punya modal penonton yang melimpah. “Tinggal pengelolaannya saja,” katanya. Jika jumlah kontestan sedikit, sponsor pun tak perlu keluar biaya promosi besar. Jatah kue yang diterima klub dari sponsor pun lebih besar karena jumlah peserta kompetisi sedikit. Hanya sayang ide ini perlu waktu lama lantaran harus mengubah pedoman dasar PSSI saat ini. Belum lagi sejumlah klub eks peserikatan rasanya akan tetap memilih untuk menjadi perserikatan kembali dibanding menjadi klub yang mandiri. (wis/tot)

0 comments:

Iris : GGD

And i don't want the world to see me, 'cause i don't think that they'd understand, when everything's made to be broken, i just want you to know who i am,,,

My Project

Recent Post