Popular Post

Sugeng Rawuh ---> Welcome ---> Ahlan wa Sahlan ---> Selamat Datang di Ngroto,Gubug,Grobogan

Tuesday, January 16, 2007

Kenapa Penyelenggaraan Piala AFF Lesu Promosi?

Dibanding gelaran Piala Tiger, yang telah berlangsung dalam lima edisi, pementasan Piala AFF 2007 dinilai sedikit lesu. Apakah akibat ketiadaan sponsor utama turnamen ini jadi menurun mutunya? Berikut pandangan Franciscus Kalbuadi, Ketua Delegasi AFF, dan Herman Ago, Direktur Promosi PSSI, yang disampaikan kepada Sigit Nugroho di Hotel Amara, Singapura, Minggu malam, dan Ario Yosia di Jakarta.
Franciscus Kalbuadi ...............................................
“Seusai gelaran Piala Tiger 2004, AFF sempat menggelar meeting untuk membahas kelangsungan turnamen dua tahunan ini. Soalnya Tiger Beer selaku sponsor utama telah menyatakan akan menarik diri setelah lima musim bekerja sama dengan AFF. Semua lantas memutuskan jika tidak ada lagi perusahaan yang mau menggantikan posisi Tiger Beer selaku sponsor kejuaraan, sebaiknya diangkat saja nama ASEAN. Semua sepakat dan akhirnya jadilah sekarang Piala AFF. Tentu saja ajang ini bukan berarti sama sekali tak laku dijual. Buktinya kami masih memiliki sponsor World Sport Group, yang mengkoordinasi berbagai perusahaan yang ingin memakai Piala AFF sebagai lahan promosi. Soal nilainya saya tidak berhak bicara. Besar kemungkinan di bawah biaya yang pernah dikeluarkan Tiger Beer. Tapi, menurut saya, tanpa sponsor utama pun pertandingan berjalan dengan baik, di Bangkok maupun Singapura. Ada yang menyebut tanpa sponsor utama ada impact negatif. Misalnya kualitas turnamen jadi agak menurun. Saya rasa tidak demikian. Justru sebaliknya, dari sisi kualitas mutu turnamen ini terangkat dibanding dulu. Jumlah hari pelaksanaan turnamen yang dibikin lebih padat demi mengikuti pembatasan jumlah peserta justru merangsang kualitas pertandingan. Ingat, jika dulu semua peserta bisa masuk tanpa kualifikasi, kini ada prakualifikasi yang dilaksanakan di Stadion Panaad, Bacolod City, Filipina, selama sepekan lebih. Dari sana muncullah Laos dan Filipina, yang berhasil menyingkirkan Timor Leste, Kamboja, dan Brunei Darussalam. Hasilnya kini skor lebih ketat. Dulu Indonesia bisa menang 10-2 atas Kamboja, kini tidak ada atau belum ada lagi. Laos pun hanya kalah 1-3 dari Bambang Pamungkas dkk. Jika turnamen ini dikelola dengan baik, tentu sponsor akan kembali melirik. Tiger Beer merasa cukup sukses mengangkat citranya pada titik optimal lewat turnamen ini. Kelak, saya yakin ada perusahaan lain yang punya bidikan yang sama.”
Herman Ago ...............................................
“Kurang begitu bergemanya promosi Piala AFF tak lepas dari berakhirnya kontrak kerja sama dengan sponsor utama Tiger Beer, yang selama ini menanggung sebagian besar pendanaan pelaksanaan turnamen. Tanpa suntikan dana segar, AFF tentu kesulitan menjalankan strategi promosi acara. Beruntung atas bantuan Worlds Sport Group (WSG), pemegang lisensi turnamen, gelaran tingkat ASEAN tetap bisa berjalan sesuai dengan jadwal, walau gelegar promosinya tak sebombastis seperti biasanya. Tanpa sokongan dana yang besar sulit untuk melakukan promosi yang baik. PSSI sempat dimintai tolong oleh WSG untuk membantu mencarikan sponsor untuk mendukung Piala AFF. Sayang, karena konsentrasi sedang dialihkan pada persiapan Piala Asia, kami menolak. Biar bagaimana pun Piala Asia merupakan agenda besar yang tak bisa dikesampingkan PSSI, yang ditunjuk sebagai salah satu tuan rumah. Hal yang terjadi di Piala AFF tentu menjadi pelajaran bagi PSSI agar tak mengalami kejadian sama saat menggelar Piala Asia di Jakarta, Juni mendatang. Karena itu, kami menyusun program promosi sejak jauh-jauh hari agar bisa menjual produk Piala Asia ke sponsor. Kita beruntung karena sebagai tuan rumah kita mendapat subsidi dari AFF. Tapi, diukur dari nilai besarannya tentu tak menutupi pengeluaran. Dengan kondisi itu, kita perlu bekerja keras untuk mencari sumber-sumber dana guna menutupi pengeluaran. Puji syukur karena nilai jual Piala Asia tinggi, banyak perusahaan yang menaruh minat untuk mensponsori penyelenggaraan turnamen. Hingga Januari jatah kapling telah terisi penuh. Perusahaan macam Telkomsel serta Nike bersedia masuk menutupi sejumlah pos-pos pengeluaran PSSI. Dalam memilih sponsor, kami juga tidak bisa sembarangan. Perusahaan-perusahaan rokok nasional yang selama ini aktif menyokong ajang sepakbola berskala nasional tak bisa masuk. Kondisi ini pula yang sedikit merepotkan AFF. Ketatnya aturan yang berlaku secara internasional membuat ruang lingkup sponsorship buat Piala AFF terbatas. Saya yakin jika perusahaan rokok boleh masuk, ajang dengan reputasi sebesar Piala AFF tak akan kesulitan mendapatkan sponsor penyokong. Mencermati itu kami menyusun strategi promosi yang tak bersinggungan dengan kebijakan AFC. PSSI lewat tim promosi Piala Asia telah menyusun sejumlah program kerja yang dijalankan secara kontinu guna mendongkrak reputasi ajang besar tersebut. Promosi dilakukan dengan menggandeng media massa agar pesan bisa mengena ke masyarakat. Kami juga menjalin kerja sama dengan pemerintah untuk memberi dukungan, baik secara moral maupun finansial, agar pelaksanaan Piala Asia sukses nantinya. Kami meminta kepada pemerintah memberi kelonggaran dalam hal pembayaran pajak promosi. Keringanan sudah barang tentu mempermudah pihak sponsor masuk. Pemerintah wajib memberi dukungan karena ajang Piala Asia merupakan hajat besar membawa nama bangsa. Sejumlah program promosi telah kami siapkan, di antaranya dengan menyelenggarakan sejumlah laga uji coba yang disiarkan RCTI sebagai stasiun pemegang hak siar Piala Asia. Paling tidak ada 13 laga uji coba yang melibatkan timnas sebagai sarana kampanye memopulerkan Piala Asia di tanah Air. Program lain juga digeber secara berbarengan setiap bulan. Misalnya peluncuran maskot turnamen hingga promosi iklan secara periodik di media massa. Intinya kami tak ingin gelaran Piala Asia digarap secara asal-asalan atau minim promosi seperti halnya Piala AFF. PSSI akan buktikan kita lebih baik dibanding AFF agar reputasi bangsa terangkat di dunia internasional. Secara pribadi, saya optimistis hal itu bisa diwujudkan.”

0 comments:

Iris : GGD

And i don't want the world to see me, 'cause i don't think that they'd understand, when everything's made to be broken, i just want you to know who i am,,,

My Project

Recent Post