Popular Post

Sugeng Rawuh ---> Welcome ---> Ahlan wa Sahlan ---> Selamat Datang di Ngroto,Gubug,Grobogan

Thursday, January 4, 2007

KITA MASIH KENA SIHIR

Lilianto Apriadi
KITA MASIH KENA SIHIR
Kamis, 13 Juli 2006 pukul 12:14:51 WIB
Satu bulan penuh kita sudah merasakan sihir Piala Dunia. Kini kita kembali lagi ke alam nyata. Kembali dengan sepakbola Indonesia. Memang menjadi geli kalau ada yang berharap kita bisa tampil di Piala Dunia sementara PSSI dipimpin dari dalam bui. Sihir dalam bentuk lain?

Berada di tengah-tengah acara nonton bareng pertandingan final Piala Dunia di Kampoeng Bola Senayan yang dihadiri oleh ribuan orang, ada pertanyaan menggelitik. Heran ya kok kita bisa begini?

Piala Dunia berlangsung nun jauh di sana. Piala Dunia jauh dengan sepakbola kita. Tapi, lihat saja sambutan yang begitu gemuruh saat Zinedine Zidane mencetak gol lewat tendangan penalti. Pendukung Prancis bersorak sorai. Mereka tidak mau tahu apakah Zidane kenal dengan kita atau tidak.

Begitu pula ketika Marco Materazzi membuku gol balasan lewat kepalanya, giliran pendukung Italia gemuruh menyambut hasil itu. Mereka juga tak mau tahu apakah Fabio Cannavaro dkk. mengenal mereka atau tidak.

Kelakuan mereka yang rata-rata penggila bola masih bisa dimaklumi. Tapi, kalau seorang menteri, lalu Ketua Umum KONI Pusat, hingga akhirnya seorang Presiden berbicara bahwa suatu saat Indonesia bisa hadir di Piala Dunia, saya jadi bertanya-tanya: jangan-jangan kita sudah gila beneran? Atau beginilah saking besarnya sihir Piala Dunia.

Kegilaan kepada Prancis masih dimaklumi, karena dikaitkan dengan rasa kagum. Begitu pula dengan kegilaan kepada pemain-pemain Italia. Nah, kalau sudah mengagumi PSSI?

Nasionalisme boleh, tapi kalau sudah terlewat batas, nasionalisme menjadi hilang. Kalau memang berharap kepada sepakbola Indonesia ke Piala Dunia, kenapa tidak bisa mulai dari yang kecil dulu. Mulailah dari PSSI itu sendiri. Semestinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika mengajak nonton bareng di Istana Merdeka, bertanya dulu kepada Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, kemana Ketua Umum PSSI, kok tidak hadir?

Setelah bertanya atau pura-pura bertanya, mestinya nonton bareng itu dibubarkan. Presiden mestinya merasa malu, kalau kita nonton produk dunia tapi barang lokal sendiri kurang perhatian.

Atau saat itu Presiden tidak bertanya sementara sang menteri juga pura-pura tidak tahu saja. Sehingga suasana itu seolah berada di luar alam nyata.


***


Bukan hanya merasa tersihir, Piala Dunia yang baru saja berakhir itu memang seperti terjadi di alam mimpi, seperti dalam film-film Hollywood yang skenario atau pun jalan ceritanya di luar alam nyata kita.

Italia menjadi juara dengan dorongan besar oleh kasus beberapa pemainnya di dalam negeri. Zinedine Zidane menjadi pemain terbaik dengan kondisi yang masih simpang siur, kontroversial! Jerman tampil dengan permainan yang di luar perkiraan masyarakatnya sendiri, meninggalkan gaya diesel dan menjadi lebih dinamis. Hingga mereka melahirkan Lukas Podolski dan Miroslav Kloses sebagai pemain muda terbaik dan pencetak gol terbanyak. Brasil yang bermain seperti orang kekenyangan walau Ronaldo menorehkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang Piala Dunia dengan 15 gol. Dan banyak lagi mimpi-mimpi itu.

Mimpi itu berada di awang-awang kita. Kini tapak kita berada di bumi lagi, di bumi Indonesia yang mulai Senin (17/7) memutar kompetisi 8 Besar Liga Indonesia. Dapatkah mimpi-mipi itu terwujud di Stadion Petrokimia maupun Panahan? Wow terlalu jauh.

Sihir lain justru terjadi di Liga Indonesia. Para penonton, penitia, pengurus, maupun pengamat sepertinya terus memaklumi kondisi Ketua Umum PSSI yang kini menjadi pesakitan di dalam penjara.

Sebagai penonton Piala Dunia, sering kali kita melihat petinggi-petinggi negara maupun organisasi sepakbola hadir di tribun VIP menyaksikan pertandingan. Kehadiran mereka menjadi dorongan baut tim. Pemain, pelatih dan pengurus menjadi terpacu.

Nah, kalau yang ada di negeri kita sang ketua umum justru berada di balik terali besi. Bagaimana tim maupun pemain bisa terdorong motivasinya? Bagaimana pula dengan pelatih, ofisial, wasit, penonton, dan pengurus lainnya?

Alih-alih bahwa pendelegasian wewenang sudah cukup sebagai penutup persoalan bui Ketua Umum, sebenarnya sudah bisa dijawab dalam sebulan Piala Dunia itu. Presiden FIFA, Sepp Blatter tak beranjak barang sehari pun dari Jerman. Banyak sekali presiden-presiden federasi peserta mendampingi timnya hingga menjadi ketua delegasi. Artinya, kehadiran secara fisik tokoh tertinggi sepakbola sangat penting dalam memajukan persepakbolaan negeri itu.

Maka, kita harus siap menyaksikan laga 8 Besar Liga Indonesia dengan kualitas yang amburadul. Kualitas bukan hanya untuk pemainnya, tapi juga wasit, pelatih, ofisial, hingga penontonnya.

Sebenarnya kualitas minus sudah lama terjadi. Namun, penurunan semakin tajam setelah PSSI tidak lagi memiliki Ketua Umum yang berkantor di Senayan. Permainan tim peserta Liga Indonesia tak ada yang menonjol. Secara signifikan merembet kepada kualitas pemainnya. Tak muncul talenta spesial dalam individu pemain.
Dari sisi manajemen kepengurusan, tokoh-tokoh yang tenaganya dibutuhkan dalam even internasional tidak lagi menonjol. Kita juga tidak lagi memiliki wasit internasional yang sering bertugas di kancah internasional.

Soal dana? Sami mawon. Hadirnya kembali Nirwan Bakrie yang membawa Timnas U-23 ke Belanda bisa jadi akan meninggalkan masalah dana. Ketika ingin berangkat mereka berharap sumbangan dana dari KONI maupun Pemerintah. Ironisnya, dua lembaga pengontrol kualitas olahraga itu menyetujui program instan yang memakan dana puluhan miliaran rupiah itu.

Padahal kalau diurus dengan baik, kompetisi Liga Indonesia yang tak henti diperebutkan sponsor itu, bisa mendatangkan keuntungan guna membiayai Timnas. PSSI tidak perlu lagi menjerit dana operasional maupun teknis.

Kalau di Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga-liga Eropa kita sering “disihir” oleh besarnya keuntungan yang diraup FIFA maupun UEFA dan organisasi liga Eropa, di sini kita sering terkena sihir yang lain. Sponsor berebut, penonton berjubel, tapi panitia berakhir dengan setumpuk utang. Kita mau bekerja keras untuk menggelar kejuaraan, sementara ketua umum kita terbukti bersalah melakukan korupsi.

Adakah penyihir lain yang mampu melawan “sirepan” ini?

Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Lilianto Apriadi

0 comments:

There was an error in this gadget

Iris : GGD

And i don't want the world to see me, 'cause i don't think that they'd understand, when everything's made to be broken, i just want you to know who i am,,,

My Project

Recent Post