Popular Post

Sugeng Rawuh ---> Welcome ---> Ahlan wa Sahlan ---> Selamat Datang di Ngroto,Gubug,Grobogan

Monday, January 8, 2007

Pengantar Antropologi

Koentjaraningrat mengartikan konsep modernisasi sebagai proses penyesuaian sistem nilai budaya dari suatu bangsa agar mentalitas bangsa yang bersangkutan dapat bertahan secara wajar di tengah-tengah tekanan berbagai masalah hidup dalam dunia masa kini. Dengan demikian modernisasi di sini mempunyai makna adaptasai atau survival. Selanjutnya Koentjaraningrat juga berpendapat bahwa modernisasi itu tidak sama dengan westernisasi, dengan alasan 1) proses penyesuaian diri dengan budaya barat bukan merupakan gejala masa kini, dan 2) kebudayaan barat seperti itu bukan pula satu-satunya kebudayaan yang menentukan konstelasi dunia masa kini. Jadi modernisasi tidak identik dengan westernisasi, karena proses penyesuaian diri tidak harus selalu mengacu pada dunia (peradaban) Barat, melainkan juga boleh mengacu pada dunia (peradaban) timur atau dunia (peradaban) manapun. Di samping itu, menurut Koentjaraningrat, sebagai negara bekas jajahan Bangsa Eropa, Bangsa Indonesia sebenarnya telah melakukan penyerapan kebudayaan Eropa sejak jaman dulu, sehingga westernisasi bukan merupakan gejala masa kini. Koentjaraningrat juga tidak setuju dengan istilah kebudayaan barat dan kebudayaan timur, karena istilah tersebut tidak relevan untuk menggambarkan peradaban dunia dari aspek teknologi, ekonomi, sosial,dan politik. Peradaban dunia berdasarkan keempat aspek tersebut tidak hanya diwakili oleh satu peradaban, apakah itu peradaban barat atau peradaban timur. Jadi bisa kita garis bawahi bahwa pada prinsipnya, modernisasi adalah proses penyesuaian sistem nilai budaya agar dapat bertahan hidup di dunia masa kini.

Terdapat satu konsep yang sangat penting dalam menganalisis masyarakat yaitu konsep interaksi. Menurut konsepsi ilmiah, interaksi terjadi apabila seseorang melakukan tindakan yang mana tindakan tersebut menimbulkan respon atau reaksi dari individu yang lain. Di dalam interaksi terkandung dua unsur yaitu kontak dan komunikasi. Kontak bisa terjadi pada jarak dekat maupun jauh. Namun terjadinya kontak belum berarti bahwa komunikasi sudah berlangsung. Komunikasi baru bisa dikatakan telah berlangsung apabila kedua piihak yang terlibat di dalam komunikasi mempunyai kesamaan makna atas apa yang dikomunikasikan. Ketidaksamaan makna sering kali memicu terjadinya konflik.

Perubahan kebudayaan salah satunya bisa dikarenakan adanya persebaran unsur-unsur kebudayaan (difusi). Proses difusi ini sangat terkait dengan aktifitas migrasi yaitu perpindahan seseorang atau sekelompok orang dari satu tempat ke tempat yang lain. Difusi unsur-unsur kebudayaan juga bisa diakibatkan karena adanya pertemuan antar kelompok. Pada zaman modern difusi unsur-unsur kebudayaan bisa terjadi tanpa harus ada kontak yang nyata antar individu, karena proses difusi tersebut terjadi melalui perantaraan teknologi komunikasi dan persebaran informasi melalui media massa.

Perbedaan antara ilmu antropologi dan ilmu sosiologi terletak pada tiga hal berikut ini:
1. Sejarah kemunculannya
Kemunculan ilmu antropologi dimulai dari adanya sejumlah deskripsi yang dibuat oleh para pelaut penjelajah dunia, penyiar agama kristen/katolik, pegawai pemerintah jajahan, dan para peneliti lapangan tentang kebudayaan suku bangsa di luar bangsa Eropa. Bahan deskripsi ini disebut cacatan etnografi. Catatan etnografi ini selanjutnya digunakan untuk menyusun teori evolusi sosial budaya sebagai respon atas teori evolusi biologi yang sedang berkembang pada pertengahan abad 19.
Sementara itu ilmu sosiologi beranjak dari pemikiran ilmu filsafat sosial tentang masyarakat ideal. Akan tetapi karena keadaan masyarakat yang sesungguhnya bertolak belakang dari ide masyarakat sosial tersebut maka dirasakan perlu untuk mengumpulkan data-data konkrit keadaan masyarakat yang sesungguhnya dalam rangka menguji teori masyarakat ideal tersebut.
2. Pokok kajian
Pokok kajian dari ilmu antropologi adalah masyarakat/kebudayaan suku bangsa yang ada di luar bangsa Eropa, sedangkan pokok kajian ilmu sosiologi lebih terfokus pada masyarakat/kebudayaan Eropa dan Amerika.
3. Metodologi
Jenis kajian antropologi adalah kajian kualitatif karena sifat kajiannya adalah kajian yang mendalam. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam dan observasi (terutama observasi partisipasi), sementara analisanya cenderung menggunakan analisa komparatif.
Di lain pihak kajian sosiologi bersifat meluas. Data dikumpulkan melalui penyebaran angket dan dianalisa dengan menggunakan alat bantu statistik. Kajian sosiologi ini lebih bersifat kuantitatif.

Menurut Koentjaraningrat, terdapat tiga wujud kebudayaan yaitu kebudayaan sebagai:
1.suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya
2.suatu kompleks kegiatan serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
3.benda-benda hasil karya manusia

Terdapat istilah antropologi terapan dan antropologi pembangunan. Dilihat dari sejarahnya kedua istilah tersebut berbeda.
Bahan kajian antropologi yang berupa deskripsi suku bangsa di luar Eropa digunakan oleh pemerintah jajahan sebagai bahan penyusun kebijakan di daerah jajahan. Dengan demikian antropologi berfungsi sebagai ilmu terapan dalam rangka memantapkan kekuasaan penjajah di wilayah jajahannya.
Sementara itu pasca penjajahan, bagi negara sedang berkembang, antropologi berkedudukan sebagai antropologi pembangunan, yaitu sebagai sarana memecahkan masalah integrasi nasional.

Pada negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, yang sedang berbenah seusai masa kolonialisme berakhir, ilmu antropologi lebih difungsikan dalam perannya sebagai kajian bagi pemecahan masalah-masalah integrasi nasional dan persatuan bangsa. Sehubungan dengan hal ini ilmu antropologi sebagai ilmu terapan banyak melakukan kajian tentang masalah-masalah perubahan serta pergeseran unsur-unsur kebudayaan dan masyarakat dalam masa transisi sosial budaya akibat proses pembangunan.
Keterlibatan antropolog dalam kegiatan pembangunan nasional meliputi:
- sumbang saran bagi pelaku perencana pembangunan sehubungan dengan masalah sosial budaya masyarakat yang akan dikenai program pembangunan melalui jalur penelitian dan konsultasi dalam rapat-rapat kerja, lokakarya atau seminar-seminar pembangunan.
- memberikan sarannya dalam perdebatan di DPR sebelum rencana pembangunan tersebut disyahkan
- memberi bantuan penelitian dan konsultasi dalam pelaksanaan proyek pembangunan dalam bentuk feasibility studies
- memberi bantuan penelitian dan konsultasi dalam rangka menganalisis akibat-akibat sampingan dari proyek pembangunan


Pemimpin masyarakat negara tradisional dituntut untuk mempunyai keabsahan atas kepemimpinannya agar dapat menyeragamkan orientasi masyarakat yang dipimpinnya. Keabsahan tidak cukup hanya diperlihatkan dalam bentuk kewibawaan saja, melainkan dengan menggunakan konsep-konsep religi seperti keturunan dewa/orang sakti/orang sholeh, memiliki wahyu dari dewa/Tuhan, atau mampu mempunyai kekuatan sakti. Untuk menjaga keabsahan tersebut digunakanlah upacara intensifikasi dengan mempertunjukkan lambang-lambang keramat. Di lain pihak sistem pemimpin masa kini lebih mengandalkan dukungan dari warganya dalam memperoleh dan mempertahankan keabsahan, melalui prosedur hukum dan undang-undang. Negara Indonesia sedang berada pada posisi transisi di mana sistem kepemimpinannya berada pada pergeseran dari kepemimpinan.

0 comments:

There was an error in this gadget

Iris : GGD

And i don't want the world to see me, 'cause i don't think that they'd understand, when everything's made to be broken, i just want you to know who i am,,,

My Project

Recent Post