Popular Post

Sugeng Rawuh ---> Welcome ---> Ahlan wa Sahlan ---> Selamat Datang di Ngroto,Gubug,Grobogan

Friday, February 9, 2007

Kompetisi LI 2007 Berisiko Tinggi




Kompetisi LI 2007 Berisiko Tinggi

Kompetisi LI 2007 sudah di depan mata. Tepat 10 Februari sejumlah pertandingan akan serempak digelar setelah sempat mengalami penundaan selama seminggu. Namun, bukan hanya masalah jadwal yang menjadi kendala. Masih banyak masalah lain yang bisa mengiringi pelaksanaan kompetisi yang kini memasuki musim ke-13.
Joko Driyono, Manajer Kompetisi BLI, menyebut kompetisi kali ini high risk competition. Apa saja yang menyebabkan demikian? Berikut pendapat Joko, yang disarikan dari wawancara dengan Ary Julianto dari BOLA.
***
“Kompetisi LI 2007 kali ini memang akan berjalan dengan padat, terutama karena ada agenda timnas yang berjalan di bulan Mei hingga Juli. Untuk agenda timnas, setelah gagal di Vietnam dan Piala AFF lalu, PSSI menetapkan jadwal pelatnas yang cukup lama untuk Piala Asia. Tentu pada saat itu kompetisi praktis tidak bisa berjalan karena pemain memasuki pelatnas.
Juga ada pula sejumlah penundaan di awal kompetisi karena isu dana APBD beberapa waktu lalu yang membuat PSSI terpaksa mengundurkan kompetisi satu minggu. Akhirnya kompetisi diundur ke tanggal 10 Februari dari rencana semula 3 Februari.
Dalam simulasi awal dengan pengunduran itu, jadwal pun ikut mundur satu minggu. Jadi jadwal satu minggu terakhir pada putaran pertama yang seharusnya selesai akhir April terpaksa mundur pula ke bulan Agustus yang seharusnya masuk ke putaran kedua. Namun, setelah kita pertimbangkan ini menjadi tidak ideal.
Oleh karena itu akhirnya kita putuskan untuk memampatkan jadwal putaran pertama ini sehingga selesai akhir April seperti rencana awal. Hal ini menyebabkan kompetisi 2007 putaran pertama kurang ideal dari sisi jadwal. Frekuensi pertandingan menjadi padat. Dalam tiga bulan, klub main 17 kali atau 0,65 minggu per pertandingan. Ini terjadi karena putaran pertama hanya berlangsung sebelas minggu. Ini pernah kita alami tahun 2003.
Ini sangat rentan. Pasalnya jika ada kasus pertandingan tertunda atau tidak terlaksana karena suatu hal atau kasus apa pun, memindahkannya akan sangat sulit. Kesempatan untuk menjadwal ulang di sela-sela kompetisi pada putaran pertama sangat sulit.
Putaran kedua relatif akan berjalan normal. Akan ada 17 pertandingan dalam 13 minggu atau sekitar 0,8 minggu per pertandingan. LI akan selesai pada bulan Desember dan liga musim depan akan berjalan lagi pada Maret 2008.
Nah, kalau ada pertandingan tertunda pada putaran pertama karena suatu dan lain hal, maka klub harus rela pertandingan itu dilimpahkan ke putaran kedua setelah bulan Agustus. Kecuali kalau diizinkan PSSI memutar di bulan Mei atau Juni, tetapi saya rasa ini juga sulit. Kalau sifatnya penundaan massal karena kasus tertentu seperti di Italia, saya tak berwenang menjawabnya.
Nah, seandainya ada penundaan atau kerusuhan tunggal dalam suatu pertandingan pada putaran pertama, maka penegakan hukumnya kita akan langsung memutuskan siapa menang atau siapa kalah. Apakah tuan rumah atau tim tamu yang dinyatakan kalah sebagai hasil lainnya. Menunda pertandingan besok paginya juga tak efektif karena secara teknis jadwal terlalu padat untuk ditunda sehari, kecuali pertandingan berikutnya klub tamu masih berada di satu pulau. Kalau lain pulau jelas sangat sulit karena jadwal padat tadi.
Dengan kondisi tidak ideal itu, secara teknis, kualitas kompetisi hanya dapat dijaga oleh kualitas manajemen klub yang excellent. Persik dan Arema memang mendapat pengecualian. Mereka mendapat interval tiga hari sebelum dan sesudah pertandingan mereka di Liga Champion Asia.
Kalau dilihat secara keseluruhan setiap, selain Persik dan Arema, punya kesempatan libur dua minggu. Tetapi kedua klub itu tak bisa. Nah, kesulitan ini hanya dapat diatasi oleh klub dengan manajemen yang excellent.
Soal Kitas dan ITC, banyak pemain asing yang tak selesai tepat waktu. Saya melihat banyak klub memang mengajukan syarat tersebut pada saat-saat akhir sehingga ada kendala. Padahal, dalam waktu normal, ITC dan Kitas itu bisa keluar dalam dua minggu. ITC bisa cepat karena ada bantuan dari federasi asal. Sementara itu Kitas ada sedikit kendala di imigrasi atau Depnaker.
Soal wasit, kita sudah meminta PSSI sebanyak 50 wasit dan 70 asisten wasit serta 50 pengawas pertandingan. Kualitas wasit itu beragam. Sekitar 50 % dari 50 wasit itu adalah wasit baru. Kita punya sistem penugasan 25 % wasit dengan status excellent, 50% good, dan 25% standar.
Untuk penugasan wasit tengah kita akan mencoba wasit terbaik pada pertandingan tertentu, bahkan wasit excellent ini akan berputar ke semua daerah. Mereka akan bertugas kira-kira 6 kali dalam sebulan. Lalu wasit kelas good akan bertugas 3-4 sebulan dan kelas standar hanya dua kali dalam sebulan.
Wasit kita punya kendala juga karena tak semua profesional. Banyak pula yang memiliki pekerjaan lain dan suatu saat kita tak bisa menugaskan mereka karena suatu dan lain hal.

Delapan Degradasi

Musim depan akan ada empat klub masing-masing wilayah atau delapan klub di divisi utama ini yang terdegradasi ke divisi utama. Inilah alasannya disebut high risk competition. Rasio degradasi kini menjadi 4/18, sementara di Liga Inggris saja cuma 3/20.
Posisi degradasi saja menyebabkan risiko tinggi. Belum lagi di setiap wilayah akan ada masing-masing sembilan klub yang mendapatkan tiket menuju Liga Super. Namun, itu bukan tiket otomatis lolos. Masih ada lima aspek yang harus mereka penuhi agar bisa lolos ke Liga Super.
Lima aspek itu adalah, pertama prestasi, kedua infrastruktur klub, ketiga masalah keuangan, keempat masalah sarana pendukung seperti pengembangan tim usia muda, dan kelima masalah manajemen yang sesuai dengan standar BLI, misalnya seputar lisensi pelatih asisten, pelatih fisik, fisioterapi, dan dokter.
Saat ini, kelima aspek itu kita godok masak. Rencananya pada bulan April nanti kami akan merilis secara detail lima syarat itu dan disosialisasikan ke klub agar bisa memenuhi kriteria masuk ke Liga Super.
Reduksi lima aspek itu saya kira tak ada. Dari tim task force tak ada kompromi. Kami ingin standarnya ditetapkan lalu tidak ada kompromi lagi. Persoalannya, kita sering melihat standarnya sudah ditetapkan tetapi lantaran tak ada klub yang mampu mencapainya lantas ada kebijakan yang mereduksi standar itu.
Lebih baik saya kira standar itu kita turunkan saat membuatnya. Misalnya dari nilai 10 menjadi 7, lalu dilaksanakan tetapi tidak ada kebijakan lagi. Ini secara aturan menjadi benar. Namun, standar yang turun tidak boleh terlalu tajam. Kita juga harus punya blue print. Pada 2012 standar ideal atau nilai 10 itu akan tercapai.
Saat ini kita juga tengah mendiskusikan apakah nanti akan mereduksi jumlah klub yang tak memenuhi syarat tadi. Misalnya jika ada klub yang sudah mendapat tiket lolos namun tak memenuhi kriteria liga super, maka akan kita drop dari posisinya dan kembali ke divisi utama. Ini akan dilakukan terus sampai minimal ada 12 klub. Jika kurang dari 12 klub, maka klub ranking 10 bisa saja masuk mengisi kekurangan itu jika memenuhi syarat. Lewat sistem kompetisi ini saya yakin akan muncul klub profesional.

Pendanaan Mandiri

Soal pendanaan klub saat ini, BLI memang tak mencampuri. Idealnya, pendanaan klub saat ini harus pindah dari APBD ke yang profesional. Misalnya 25-35 % dari tiket, 30-40% dari sponsor, 5-10% dari merchandise, 5-10% dari tranfser, dan sisanya kali tak bisa untung ditalangi dari pemilik klub. Namun, hal ini baru bisa berjalan 5-10 tahun nanti.
Saya melihat pemerintah tetap harus bertanggung jawab soal ini, terutama soal infrastruktur stadion dan pembuatan sentra-sentra pembinaan pemain. Kalau dana pemerintah nanti masuk ke klub, maka konteksnya tetap bisnis murni. Misalnya Dinas Pariwisata memasang a-board di lapangan. Saya kira sangat wajar. Jadi keuangan klub tetap bisa dipertanggungjawabkan.
Soal gaji pemain yang kini sangat tinggi, kami sebenarnya mau rem. Namun, klubnya selingkuh. Banyak tanda tangan di bawah meja dan lain sebagainya. Klub merasa anggaran mereka tak terbatas. Saya kira soal gaji pemain itu masalah pasar. Jika duitnya tak ada maka mau tak mau harga pemain juga turun. Kalau dibatasi saya kira malah menimbulkan masalah baru.
Dalam Liga Super kami juga mengarah ke audit klub. Namun, kami tidak hanya bicara soal keuangan saat ini, tetapi juga riwayat keuangan tiga atau dua tahun lalu. Ini harus terbuka agar investasi sponsor pun mendapatkan kepastian.”

0 comments:

There was an error in this gadget

Iris : GGD

And i don't want the world to see me, 'cause i don't think that they'd understand, when everything's made to be broken, i just want you to know who i am,,,

My Project

Recent Post