Popular Post

Sugeng Rawuh ---> Welcome ---> Ahlan wa Sahlan ---> Selamat Datang di Ngroto,Gubug,Grobogan

Friday, February 9, 2007

KOI, KON, KONI, atau Emas?


Catatan Ringan
Ian Situmorang
http://www.bolanews.com/edisi-cetak/caring.htm

KOI, KON, KONI, atau Emas?

Olahraga Indonesia berada pada persimpangan jalan. Kegagalan yang berlanjut dan berulang itu ingin dihentikan. Para tokoh pun bergerak lincah ingin cepat menemukan jalan keluar dari situasi yang terus memburuk.

Berbagai ide tercetus. Sayangnya gerakan itu bergolak bersamaan sehingga serasa menimbulkan kerumitan baru. Yang menonjol justru seputar kulit luar, bukan hal substansial.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar Indonesia setidaknya berada di tiga besar di Asia Tenggara. Harapan ini sangat wajar dan masuk akal. Namun, reaksi yang timbul belakangan ini menurut saya justru tidak fokus pada titik masalah.

Poin utama untuk meningkatkan prestasi seperti halnya masa-masa lalu dengan memberdayakan Pengurus Besar (PB) malah menciptakan wadah baru. Belakangan ini kita mengenal Satgas, yang menangani pelatnas dengan kekuasaan lebih besar.

Sadar atau tidak, wewenang besar di pundak Satgas akan menimbulkan antipati bagi PB. Jika tidak pandai-pandai membangun komunikasi dengan PB, akan timbul friksi pada perjalanan pembinaan di kemudian hari.

Masih dalam situasi meningkatkan kualitas atlet, kita pun sibuk dengan persoalan administratif. Belakangan ini menonjol pro dan kontra seputar KOI, KON yang merupakan perceraian dari KONI.
***
Apa kita butuh nama baru? Sesungguhnya bukan soal nama dan organisasi, yang mendesak adalah bagaimana membina, mendorong, dan menciptakan atlet Indonesia meningkatkan prestasi yang pada akhirnya meraih medali emas di arena internasional.

Apa boleh buat, kita sudah sering terjebak dan suka bermain kata-kata. Bukan lagi tujuan realistis yang diutamakan, tapi terganjal pada pemahaman sepihak yang belum tentu cocok diaplikasikan.

Betul, aturan main seperti tertuang dalam UU Keolahragaan No. 3/2005 pasal 36 mengatur tentang Komite Olahraga Nasional (KON). Yang memilih adalah anggota yang selama ini berlaku di KONI. Ada lagi Komite Olimpiade Indonesia (KOI), yang merupakan bentukan pemerintah.

Menurut saya, sama saja apa yang disebut KOI, KON, atau KONI. Tidak ada sesuatu yang baru di sana. Yang baru adalah kalangan tertentu yang memiliki agenda dan kepentingan khusus. Rasanya lebih berdaya guna bila dana dan energi yang tersedot ke sana dipakai untuk pelatnas.

Berani memulai sesuatu yang baru berarti berharap mendapat hasil lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja, bila terlalu banyak melakukan tindakan yang kurang perhitungan, bisa-bisa justru menuai kegagalan.

Semoga saja olahraga Indonesia dapat keluar dari lilitan minim prestasi dewasa ini. Namun, di balik optimisme yang demikian besar, kita tak boleh menjadi besar kepala dan tak siap hal-hal buruk. Siapa tahu keputusan yang diambil hari ini tidak cocok diterapkan ke depan.

SEA Games akan berlangsung Desember depan di Vietnam. Indonesia sudah mengantisipasinya dengan melakukan pelatnas sejak awal tahun. Ini tindakan yang sangat bagus.

Harapan kita semua, prestasi ideal setiap atlet dapat tercapai tepat pada waktunya. Atlet tak perlu mencari tahu apalagi malah membuat bingung seputar peranan masing-masing lembaga terkait: Pengurus Besar, Satgas, KON, KOI, hingga kantor Menegpora.
***
Di pengujung Februari ini, tugas dan tanggung jawab Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar, berakhir. Tongkat komando harus segera diserahkan kepada tokoh baru.

Siapakah tokoh baru tersebut dan siap menghilangkah huruf I dari KONI menjadi KON? Mampukah ia mengemban amanah masyarakat olahraga Indonesia untuk menegakkan nama besar bangsa ini di tengah-tengah negara-negara Asia Tenggara hingga dunia?

Helmy Sungkar, yang lebih memilih jalan hidup sebagai promotor otomotif ketimbang menjadi saudagar mobil, secara terbuka mau bertarung. Cinta sekaligus penasaran karena prestasi atlet Indonesia kalah cepat dari negara lain menjadi pendorong utama.

Pak dosen dari Medan yang pernah menjadi Sekjen KONI Pusat dan kini Deputi Menegpora, Johar Arifin Husen, juga berniat. Banyak tahu tentang olahraga dan yakin mampu mengendalikan pencapaian prestasi sebagai modal masuk bursa ketua.

Luhut Panjaitan memang cukup memiliki pendukung pada pemilihan ketua periode lalu, namun kalah suara dari Agum. Membina karate dan berhasil meningkatkan prestasi menjadi pengalaman berarti untuk diterapkan dalam skala lebih besar sebagai ketua.

Dengan gaya low profile, tokoh lama yang memiliki international-link, Rita Subowo, akan ikutan meramaikan pertarungan. Lama berkecimpung di bola voli, kemudian menjadi pengurus bola voli internasional di samping sebagai pengurus teras KONI adalah aset terbesar baginya.

Ada lagi satu tokoh yang sempat masuk bursa dan mendapat perhatian besar, Sutiyoso. Karena berbagai pertimbangan, ternyata Gubernur Jakarta ini tak dapat memenuhi harapan pendukungnya untuk terus maju.

Anda punya penilaian siapa yang lebih berpeluang? Apakah Anda setuju kalau peluang para kandidat ini dibagi seperti ini: Rita Subowo (40%), Luhut Panjaitan (35%), Johar Arifin (15%), Helmy Sungkar (10%). Atau mungkin ada tokoh baru?

Biarlah pertarungan berjalan alot dan keras tapi harus dalam koridor sportivitas. Toh, ujungnya adalah meraih prestasi emas. Medali emas!
ian@bolanews.com

0 comments:

There was an error in this gadget

Iris : GGD

And i don't want the world to see me, 'cause i don't think that they'd understand, when everything's made to be broken, i just want you to know who i am,,,

My Project

Recent Post