Popular Post

Sugeng Rawuh ---> Welcome ---> Ahlan wa Sahlan ---> Selamat Datang di Ngroto,Gubug,Grobogan

Wednesday, February 7, 2007

Pemanfaatan dan analisis ekonomi usaha ternak kelinci di Pedesaan.

Oleh tetty
http://balitnak.litbang.deptan.go.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=197
Jumat, 03-Maret-2006, 14:29:45

Broto Wibowo, Sumanto, E.Juarini (2005). Pemanfaatan dan analisis ekonomi usaha ternak kelinci di Pedesaan. Dalam: Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Kelinci, Bandung: 30 September 2005. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan hal. 139-143.

ABSTRAK: Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata.
Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara manusia dengan ternak kelinci dalam hal memotong dan sekaligus untuk dimakan.
Kendala lainnya adalah angka kematian yang cukup tinggi dan masih perlu adanya sosialisasi mengkonsumsi daging dan penyediaan produk daging olahan yang menarik konsumen.
Disisi lain ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal.
Manfaat lainnya adalah sebagai penghasil kulit bulu, kotoran (feces) dan sebagai ternak kesayangan. Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak.
Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil-berorientasi pasar.
Telah dicoba dilakukan analisis terhadap usaha kelinci intensif yang berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan pada skala usaha tersebut adalah sebesar Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan (dalam perhitungan ini dilakukan penilaian terhadap sisa kelinci yang belum berumur potong, karena dalam kas opnam masih tersisa sejumlah ternak muda).

Daging kelinci dapat menjadi makanan alternatif yang relatif mudah diperoleh. Daging itu mampu menurunkan risiko kolesterol dan penyakit jantung
Sayangnya, daging kelinci belum populer. "Padahal, mutu gizinya lebih bagus dibanding daging lainnya," kata Dr Yono C Raharjo dari Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor, dalam Seminar Nasional bertema prospek ternak kelinci untuk meningkatkan gizi masyarakat, akhir pekan lalu.

Salah satu cara mengenalkan daging kelinci kepada masyarakat adalah dengan mengolah daging kelinci ke dalam beberapa jenis masakan seperti sate kelinci, sosis, dendeng, dan bakso. "Semakin cepat dimasak, kandungan gizi kelinci makin sedikit berkurang. Daging kelinci yang paling baik dimasak adalah daging kelinci muda karena lebih cepat matang," papar Kusmajadi

Menurutnya, daging kelinci berbeda dengan daging ternak ruminansia. Daging kelinci berserat halus dan warna sedikit pucat, sehingga dapat dikelompokkan dalam golongan daging berwarna putih seperti halnya daging ayam. Daging putih kadar lemaknya rendah dan glikogen tinggi.

"Rendahnya kandungan kolesterol dan natrium membuat daging kelinci sangat dianjurkan sebagai makanan untuk pasien penyakit jantung, usia lanjut, dan mereka yang bermasalah dengan kelebihan berat badan. "Keuntungan lainnya, tulang pada kelinci lebih tipis, dagingnya halus, dan seratnya pendek sehingga mudah dikunyah," papar Kusmajadi.


Liputan6.com,

Bandung: Sebuah hobi jika ditekuni secara sungguh-sungguh bisa mendatangkan manfaat yang berganda. Selain kegemaran dapat tersalurkan, keuntungan pun bisa diraih. Seperti yang dilakukan Rudy Hustamin. Pria satu ini sukses mengembangkan hobi memelihara kelinci menjadi sebuah bisnis yang memberikan keuntungan menjanjikan.

Rudy yang sehari-harinya tetap bekerja kantoran, menjalankan peternakan kelincinya menjadi usaha yang serius. Di atas lahan seluas 3.000 meter persegi di Kampung Cibadak, Kecamatan Parongpong, Desa Cigugur, Kabupaten Bandung Selatan, Jawa Barat, Rudy sengaja menernakkan puluhan kelinci dari berbagai jenis.

Namun, hewan hasil tangkarannya ini bukan untuk dikonsumsi tapi khusus untuk hewan peliharaan. Oleh karena itu, kelinci yang dipelihara Rudy adalah jenis-jenis unggul dengan ciri khas masing-masing yang sangat unik.

Kelinci-kelinci di peternakan ini ada yang berasal dari Indonesia maupun hasil persilangan dengan negara lain seperti Australia, Belanda, Amerika Serikat dan Inggris. "Kelinci itu jenisnya banyak. Ada Rex dari Amerika atau Dutch dan Nederlands dari Belanda. Kelinci-kelinci ukurannya lebih kecil tapi pasarannya lebih bagus," kata Rudy.

Bisnis peternakan kelinci ini mulai dirintis secara serius oleh Rudy sejak delapan tahun silam. Usaha ini didukung seluruh keluarganya yang juga sama-sama memiliki kegemaran memelihara hewan jinak berbulu tebal ini.

Dengan modal awal sebesar Rp 10 juta, Rudy mulai mencari lahan untuk mendirikan kandang, bahan makanannya dan mencari karyawan yang berasal dari masyarakat di sekitar lokasi peternakan. Setelah lama berjalan akhirnya peternakan yang dirintis Rudy sudah banyak mendatangkan penghasilan.

Selain kelinci hasil persilangan, di tempat ini juga terdapat kelinci dari jenis lainnya seperti Anggora, Australia, Himalaya, Lion dan Love. Harga setiap kelincinya berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 150 ribu.

Menurut Ami dan Trisna, dua orang konsumen peternakan Rudy, kelinci yang ada di tempat ini lucu-lucu, menggemaskan dan harganya lumayan terjangkau. Selain itu, dibanding binatang peliharaan lainnya seperti kucing, perawatan kelinci lebih mudah. "Yang paling lucu kelinci jenis Dutch," kata Ami.

Konsumen yang datang ke breeding farm miliknya memang ada yang pelanggan perorangan tapi banyak juga pelanggan rutin yang berasal dari toko hewan di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi maupun beberapa kota besar lainnya di Nusantara.

"Kalau untuk pasokan ke beberapa daerah di Indonesia paling hanya untuk Balikpapan, Samarinda, Medan, dan Jambi. Maklum, namanya juga hobi jadi omzet kita juga enggak terlalu besar. Sekarang omset satu bulan rata-rata sekitar Rp 50 juta sampai Rp 60 juta. Satu minggu kita targetkan bisa menjual 300 ekor," kata Rudy.

Menurut Rudy, sejauh ini kelinci yang dipasarkan rata-rata usianya tiga bulan ke atas. Pasalnya, bila usianya lebih muda dari tiga bulan kelinci-kelinci tersebut masih belum kuat dengan perubahan udara maupun menerima beragam jenis makanan. Menyadari bahwa kelincinya juga memerlukan makanan dengan kandungan protein yang lengkap, Rudi berinisiatif untuk memproduksi sendiri makanan untuk binatang peliharaannya.

Dijelaskan Rudy, sewaktu kelincinya sedikit masih bisa diberi rumput ditambah sisa sayuran. Tapi, sesudah banyak dan jumlahnya melebihi 400 ekor ke atas, makanan jadi lebih sulit. "Makanya kita coba membikin makanan kering dalam bentuk pelet. Susunan proteinnya disesuaikan dengan kebutuhan kelinci itu sendiri," kata Rudy.

Bisnis peternakan kelinci yang dilakoni Rudy memang sudah menampakkan kemajuan dan memberikan penghasilan yang menjanjikan. Ke depan, meski Rudy tidak menetapkan target yang tinggi namun dia yakin usahanya ini dapat lebih meningkat. Yang lebih penting lagi usaha ini bisa membuka lapangan pekerjaan yang lebih banyak bagi orang yang membutuhkan.(IAN/Tim Usaha Anda)


PETERNAKAN KELINCI RUDY HUSTAMIN
Kampung Cibadak, Kecamatan parongpong,
Desa Cigugur, Kabupaten Bandung Selatan,
Jawa Barat

Prospek, peluang dan tantangan agribisnis ternak kelinci.

Oleh tetty
http://balitnak.litbang.deptan.go.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=188
Jumat, 03-Maret-2006, 14:26:30


Raharjo, Y.C. (2005) Prospek, peluang dan tantangan agribisnis ternak kelinci. Dalam: Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Kelinci. Bandung : 30 September 2005. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan hal. 6-15.

ABSTRAK: Peningkatan penduduk diikuti dengan meningkatnya kebutuhan pangan termasuk dari protein hewani dan kebutuhan pekerjaan, globalisasi pasar yang berdampak pada kompetisi, efisiensi produksi dan menghasilkan produk bermutu, serta kebutuhan devisa sehingga harus menciptakan produk ekspor adalah sebagian dari tantangan yang harus dihadapi termasuk oleh dunia peternakan.
Diantara berbagai komoditas ternak yang tersedia, kelinci, dari potensi yang dimilikinya, merupakan salah satu alternatif yang berpeluang. Potensi utama ternak kelinci dalam mewujudkan suatu agribisnis adalah kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang biak dengan cepat, baik melalui pola usaha skala rumah tangga maupun skala industri. Selain itu, kelinci juga menghasikan berbagai ragam produk bermutu yang dibutuhkan pasar. Namun, tak dapat disangkal bahwa agribisnis ternak kelinci di berbagai negara, termasuk Indonesia, kurang populer dan kurang berkembang dibandingkan dengan ternak konvensional lainnya. Pengembangan agribisnis ternak kelinci di Indonesia, dalam hubungannya dengan masalah yang dihadapi, tidaklah terbatas pada teknologi semata, tetapi juga pada pemasaran dan kebijakan. Produk utama yang dihasilkan kelinci adalah daging 'sehat', yang tinggi kandungan protein, dan rendah kholesterol dan trigeliserida dan dapat dibuat dalam berbagai bentuk produk olahan, seperti sosis, abon, dendeng, nugget, burger dan lainnya.
Selain itu, jenis kelinci Rex dan Satin menghasilkan kulit-bulu (fur) untuk produk kulit-bulu eksklusif, dan kelinci Angora menghasilkan wool yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kelinci New Zealand White telah lama dikenal sebagai kelinci percobaan dalam dunia farmasi dan kedokteran.
Berbagai jenis kelinci lain, yang memiliki penampilan lucu dan menarik, seperti Tan, Dwarf Hotot, Lops, Fuzzy, Jersey Wooly, Netherland Dwarf, Tris Mini Rex, menjadi idola sebagai kelinci hias atau kelinci kesayangan dengan harga jual relatif tinggi.
Tambahan pula, kotoran dan urine kelinci sangat diminati sebagai pupuk organik bermutu tinggi untuk tanaman sayuran dan bunga potong.
Masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan kelinci adalah pasar yang masih sangat terbatas, karena sifat pemeliharaan yang masih sambilan dan skala kecil. Hal ini mengakibatkan kurangnya pasokan produk kelinci sehingga sulit untuk membentuk pasar. Hal ini terkait dengan, belum memasyarakatnya daging kelinci, baik karena kurangnya pasokan maupun keengganan mengkonsumsi daging kelinci yang, secara psikis, dianggap sebagai hewan yang lucu dan hewan kesayangan.
Khusus untuk produk kulit-bulu, pasar dalam negeri belum terbentuk, meskipun secara internasional, kulit-bulu kelinci Rex dan Satin, telah lama dimanfaatkan.
Dari info yahoo.com, khusus untuk subyek rabbit fur processsing, terdapat 3620 info, sedangkan untuk Europe rabbit fur industry 1750 info dan Japan rabbit fur 3950 info. Sifat pemeliharaan kelinci dan pembuatan kerajinan yang padat karya dan intensif, tingginya biaya tenaga kerja serta beragamnya musim yang berpengaruh terhadap produksi dan mutu produk menyebabkan industri ternak ini kurang berkembang sebagaimana industri ternak lainnya di negara-negara sub-tropis.
Sebaliknya, ditambah dengan kebutuhan pemenuhan gizi bagi masyarakat dan ketersediaan hijauan/bahan pakan sepanjang tahun, kelinci sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia.
Untuk menghasilkan fur bermutu tinggi, Rex dan Satin dipelihara didataran tinggi. Dalam suatu analisis usaha sederhana, untuk pemeliharaan 100 induk dan 10 pejantan, dibutuhkan biaya modal sebesar Rp. 59,3 juta (induk lokal)-Rp. 155,975 juta (induk impor), biaya operasional sebesar Rp. 46,687 juta untuk produksi 3 LS sampai umur potong (6 bulan pemeliharaan) dan pendapatan kotor sebesar Rp 110.234 juta, pada tingkat harga kulit-bulu US $ 1 (10%), $ 3 (10%), $6 (30%) dan $ 9 (50%) dan harga karkas Rp 20.000 per kg.
Berarti potensi keuntungan yang mungkin diperoleh adalah >130%. Pengembangan agrobisnis kelinci penghasil daging dan fur bermutu tinggi, memerlukan usaha promosi yang intensif dan kemampuan memasuki pasar atau bahkan menciptakan pasar. Pengembangan peternakan yang menyertakan operasi skala kecil, pemberdayaan peternakan rakyat, melibatkan koperasi, PKK dan industri terutama yang berorientasi ekspor seyogyanya merupakan salah satu sasaran pengembangan peternakan di era globalisasi ini.
Rabu, 22 Desember 2004 10:54

Kelinci dipelihara untuk dinikmati keindahan bulunya, dan dinikmati dagingnya karena lebih gurih dan halus bila dibandingkan dengan daging ayam, kolesterolnya pun rendah dan mengandung protein yang tinggi.Salah seorang pebisnis kelinci yaitu Ongky Sasongko, pemilik Conejo Rabbit Breeder di Yogyakarta. Saat ini ia memiliki 150 ekor kelinci hias yang terdiri dari 12-15 jenis. Setiap ekor bibit kelinci ia jual seharga Rp150 ribu-Rp200 ribu, sedangkan harga kelinci berukuran induk berkisar Rp250 ribu-Rp500 ribu. Untuk mendapatkan bibit kelinci yang bagus, ia mengaku sebagian harus didatangkan dari Eropa dan Australia.Manfaat yang diambil dari kelinci adalah bulu dan daging yang saat ini mulai laku di pasaran. Selain itu masih dapat dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan dan pakan ternak. "Air seninya bisa dipakai untuk penyubur tanaman anggrek dan pembasmi penyakit di daun," ujar Ongky.Kini permintaan kelinci meningkat, baik untuk dipotong maupun sebagai hewan peliharaan. Sayangnya, peternak kelinci di wilayah tempat tinggal Ongky belum mampu memenuhi permintaan itu karena kapasitas peternak yang masih terbatas. (Republika)

3 comments:

Anonymous said...

Saya ternak kelinci australia di bekonang, sukoharjo. bagi yg membutuhkan bibit dan indukan kelinci australia bs menghubungi mas iput: 085647105195. mksh., sukoharjo. bagi yg membutuhkan bibit dan indukan kelinci australia bs menghubungi mas iput: 085647105195. mksh.

kumpulan bisnis mudah said...

thanks ,,, bisa di coba nich

kelinci said...

really useful articles. Thanks
kelinci

There was an error in this gadget

Iris : GGD

And i don't want the world to see me, 'cause i don't think that they'd understand, when everything's made to be broken, i just want you to know who i am,,,

My Project

Recent Post